batukarang91

Just another WordPress.com site

BULLYING DI SEKOLAH MENENGAH PREVENSI DAN INTERVENSI Desember 30, 2012

Filed under: Uncategorized — petramaya @ 12:07 am

Karakteristik utama dari bullying adalah korban yang mendapatkan kontrol dari pelaku bullying. (Kaiser & Rasminsky 2003).  Kontrol yang didapatkan itu berupa pelakuan fisik atau verbal. Bullying fisik seperti memukul, menendang, mendorong, atau yang lainnya, sedangkan bullying verbal adalah dengan menggunakan kata- kata yang melukai seperti nama sebutan, hinaan, komentar yang rasis, atau ejekan yang kasar.

Relasional bullying juga dilakukan dengan mengasingkan salah satu orang dari kelompok teman sebaya atau teman bermain dan melakukan perilaku verbal yang kasar dengan menyebarkan gosip. Umumnya pelaku bullying lebih popular daripada korban bullying.

Beberapa penelitian menunjukkan perilaku bullying seringkali terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan. Anak laki- laki lebih sering terlibat pada bullying fisik dan verbal. Sedangkan anak-anak perempuan lebih sering terlibat pada relasional bullying.

Bullying yang terjadi di Sekolah Menengah di Amerika Serikat cenderung terjadi pada masa kanak-kanak akhir/ remaja awal. Pada pembelajaran tingkat nasional di Amerika dari 15, 686 pelajar di tingkat 6 sampai 10. Nansel dan asosiasinya (2001) melaporkan hampir 30% dari murid- murid menunjukkan sedikit atau lebih terlibat sebagai pelaku bullying atau korban dari bullying. Korelasi positif diantara tindakan bullying dan perkelahian antara lain penggunaan alkohol, merokok, dan kemampuan untuk berteman. Prestasi akademik yang rendah dan kondisi sekolah yang lebih rendah juga dapat diasosiasikan menjadi sebuah ancaman.

Casey- Cannon Hayward, dan Gowen (2001) menghubungkan investigasi kualitatif dari pengalaman dan persepsi dari relasional bullying dari anak perempuan di sekolah menengah (usia 13-14 th) dari California Utara. Mayoritas dari partisipan juga melaporkan reaksi emosional termasuk kesedihan, kemarahan, dan penolakan. Respon tingkah laku bullying seperti menolak pengancam, meminta bantuan pada anak dewasa, menjadi tegas, dan membullying/ mengancam kembali. Akibat yang lain dari bullying seperti kehilangan teman- teman, berpikir negatif, dan pindah sekolah.

Seal & Young (2003) menyatakan bahwa hampir 14% siswa dari 454 partisipan dari latar belakang tempat tinggal yang berbeda melaporkan pernah di panggil dengan sebutan nama dan yang lain pernah melaporkan pernah di pukul atau ditendang, diejek atau diperlakukan buruk. Insiden bullying sering terjadi pada saat makan siang atau istirahat, namun beberapa terjadi di jalan saat berangkat dan pulang sekolah maupun di kelas.

Akibat Untuk Pembully Dan Korban

Kaiser dan Rasminky (2003) melaporkan bahwa pelaku bullying pada masa remaja lebih memiliki resiko untuk permasalahan yang hebat seperti pelanggaran, penyalahgunaan alkohol dan narkoba, dan dikeluarkan dari sekolah. Siswa- siswa yang pernah terlibat bullying baik sebagai pelaku maupun korban ditemukan pernah mengalami depresi daripada siswa yang tidak pernah terlibat bullying. Berbagai depresi yang dialami siswa dapat berakibat pada permasalahan akademik, sifat rendah diri dan masalah interpersonal. (Seals & Young, 2003) bahkan apabila tidak diberikan dukungan dan penanganan yang tepat korban bullying akan lebih menderita dari masalah akademik, membolos, kesendirian, dan kehilangan teman.

Strategi Pencegahan dan Penanganan untuk Bullying

  1. 1.      Sebuah drama – Bullybuster

Salah satu strategi yang dilakukan dalam pencegahan dan penanganan bullying yaitu dengan menyelenggarakan program drama Bullybuster. Program ini dilaksanakan karena keprihatinan akan perilaku bullying yang terjadi di sekolah serta sebagai upaya  untuk meningkatkan kesadaran guru tentang perilaku bullying. Dengan program Bullybuster ini, maka diharapkan bahwa murid- murid akan lebih berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah untuk mengurangi bullying, guru juga melibatkan murid- murid dalam pembuatan peraturan anti-bullying di kelas dan meminta mereka untuk mentaati ikrar anti bullying. Dengan mentaati perjanjian tersebut maka murid- murid setuju untuk tidak membully, untuk menghindari tindakan bullying dan untuk melaporkan tindakan bullying. Beale & Scott melaporkan hasil positif setelah program ini diterapkan yaitu pengurangan angka sebesar 20% dari kejadian bullying di tingkat sekolah menengah serta guru juga menjadi lebih sadar dan lebih banyak murid yang melaporkan kejadian bullying pada mereka.

  1. Program pada sekolah dasar.

Sedangkan program anti bullying yang diadakan di sekolah dasar menggunakan program pengembangan yang bekerjasama dengan personel sekolah. Tujuan dari program tersebut adalah untuk menyediakan informasi  tentang bullying pada murid- murid dan menambah kesadaran dan keterampilan guru dan mempromosikan suasana sekolah yang aman. Program dimulai dengan sebuah komite yang terdiri dari guru, tenaga yang ahli, orang tua, konselor sekolah, dan kepala sekolah. Upaya bersama komite ini menghasilkan 5 nilai inti pada sebuah program edukasi antara lain penghargaan, tanggungjawab, kejujuran, kerelaan untuk mendengar, dan personal yang baik. Program ini juga diberikan melalui penyediaan lingkungan belajar yang aman oleh karena itu staf sekolah bekerja sama membuat lingkungan yang positif bagi program belajar mengajar serta penerapan nilai- nilai dan norma yang serasi dengan peraturan dan konsekuensinya. Selain itu guru juga memberikan latihan budi pekerti kepada siswa untuk saling menghormati satu sama lain, melakukan perilaku positif secara berulang, mengajari keterampilan untuk mengatasi konflik dan menetapkan peraturan dimana siswa diajak untuk memberikan dua komentar positif untuk setiap komentar yang negatif secara langsung pada individu satu sama lain. Cara yang digunakan ini secara langsung telah mengurangi perilaku bullying verbal pada anak yang lebih kecil, dengan mengembangkan program ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi sekolah lain.

  1. 3.      Peraturan di wilayah sekolah

Peraturan di wilayah sekolah  yang menyatakan bahwa apabila bullying terjadi dan itu tidak akan ditoleransi sangat penting untuk dikomunikasikan kepada para murid sebagai wujud kepedulian sekolah untuk melindungi mereka dari perilaku bullying. Kebijaksanaan bullying ini haruslah melibatkan administrator sekolah, guru- guru, wakil siswa, orang tua dan anggota komunitas agar lebih berani dalam mencurahkan perhatian pada tindakan bullying, namun kebijaksanaan bullying ini tidak akan menjadi efektif apabila anggota staf tidak sadar pada permasalahan atau tidak familiar dengan kebijaksanaan anti bullying di wilayah sekolah dan tanggungjawab mereka untuk menyelenggarakan kebijaksanaan ini. Selain itu pengawasan yang lebih juga harus dilakukan di luar sekolah dan selama tidak ada kelas karena bullying sering terjadi di luar kelas.

  1. 4.      Metode intruksional

Guru memegang peranan penting dalam program pervensi dan intervensi bullying di sekolah karena guru yang paling banyak menghabiskan waktu bersama siswa seharian. Guru seharusnya tidak menolak atau mengacuhkan laporan siswa tentang bullying jika tujuan mereka untuk mencegah atau mengurangi perilaku bullying. Guru harus menanggapi setiap laporan dengan serius. Mendiskusikan peraturan bullying di kelas dan menciptakan suasana kelas yang baik untuk ruang diskusi, hal ini merupakan metode yang baik untuk mengurangi tindakan bullying. Dengan mentaati peraturan yang berlaku di kelas maka siswa membantu penyelenggaraan prevensi/intervensi bullying di kelas dan siswa akan menyadari tentang perilaku bullying lebih jelas dan mereka juga dapat efektif membantu dalam menyelenggarakan peraturan sekolah dan kelas. Metode intruksional dan aktivitas ini dapat digunakan untuk membantu siswa mengerti tentang bullying terlebih untuk menyediakan kesempatan bagi mereka untuk memperluas lingkaran social mereka dan mempraktikkan perilaku yang baru.

Penanganan Bullies Dan Korban

  1. 1.      Penanganan Korban

Untuk menangani korban sebaiknya anggota sekolah dan orang dewasa lainnya harus berkomunikasi  dengan jelas pada korban bullying bahwa mereka tidak bersalah dan mereka tidak berhak mendapatkan bullying sebagai pengalaman mereka. Intervensi pada bagian ini dapat membantu siswa mengenali kelebihan personal dan kepandaian dan mereka akan merasa lebih bangga dan percaya diri. Menambah kemampuan social juga dapat mengurangi kesempatan korban untuk dibully. Dukungan juga harus diberikan oleh anggota sekolah kepada korban agar korban lebih mampu mengembangkan sikap terhadap bullying.

  1. 2.      Penanganan bullies (pelaku bullying)

Suatu jenis kemampuan direkomendasikan untuk bullies untuk membantu mereka belajar cara yang baru untuk berinteraksi dengan yang lain, salah satunya adalah dengan membantu bullies untuk belajar mengendalikan emosi pada diri mereka sendiri dan orang lain dan untuk menjadi lebih peduli pada sudut pandang orang lain. Self-control yang sebaiknya dilakukan adalah pengaturan diri, penguasan amarah, penanganan konflik. Dengan pengendalian diri maka bullies dapat berpikir dan menenangkan diri sebelum bertindak reaktif seperti memukul atau menendang.

Pada intinya korban dan bullies membutuhkan training keterampilan social untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan sosial agar mereka dapat diterima dalam pergaulan dengan teman sebaya dan mengembangkan pertemanan, selain itu mereka juga membutuhkan dukungan dari orang dewasa terdekat seperti orang tua atau guru untuk memberikan bimbingan agar dapat berkembang secara normal.

  1. 3.      Orang tua

Orang tua dapat memberikan banyak dukungan selama pengembangan dan pelaksanaan dari program pencegahan dan penanganan bullying. Penyediaan informasi yang kritis bagi semua orang tua tentang kebijaksanaan sekolah untuk menambah dukungan dari orang tua. Serta membangun hubungan yang dekat dan terbuka dengan orang tua sehingga dapat bekerjasama dengan orang tua dalam mengarahkan siswa.

 

KESIMPULAN

Mengerti bidang dari bullying dan karakteristik dari bullies dan korban sangat membantu untuk anggota sekolah menengah dalam mempelajari bagaimana mengembangkan intervensi yang efektif pada bullying di sekolah. Pemahaman program pencegahan bully telah terjamin sukses membantu mengurangi perilaku yang agresif dari anak- anak, dan guru mencoba memperlihatkan untuk menjadi komponen yang penting pada program ini. Seluruhnya tujuan dari program preens/ intervensi seharusnya meningkatkan kesadaran guru pada bullying, menyediakan training keterampilan dan dukungan pada semua bullies dan korban. Anggota sekolah menengah harus beani untuk menilai kebutuhan yang istimewa dari sekolah mereka dan bekerjasama untuk menyusun dan melaksanakan program yang akan membantu membantu untuk menciptakan dan mempertahankan lingkungan yang sehat bagi semua siswa.

About these ads
 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.